TOKOH TOKOH PERADABAN
ISLAM
1. Abdurrahman bin Khaldun (Abdurrahman Abu Zaid
Waliyyuddin)
Riwayat Hidup Ibnu Khaldun
Ø Nama
lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar
Muhammad bin al-Hasan
Ø Lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332/732H, dan wafat pada
tanggal 19 Maret
1406/808H.
Ø Pada saat mencapai usia baligh, beliau telah menghafalkan Alqur’an
dan menimba ilmu dari para sesepuhnya. Adapun pendidikan yang diperoleh Ibnu Khaldun diantaranya adalah pelajaran agama, bahasa, logika dan filsafat. Sebagai gurunya yang utama adalah ayahnya sendiri, di samping Ibnu Khaldun juga menghafal al-Qur’an, mempelajari fisika dan matematika dari ulama-ulama besar pada masanya
Peranan
dan Karya Karyanya
Di antara sekian banyak pemikir masa lampau yang mengkaji ekonomi Islam, Ibnu Khaldun
merupakan salah satu ilmuwan yang paling menonjol. Ibnu Khaldun sering disebut
sebagai raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja Bapak
sosiologi tetapi juga Bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang
jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad
mendahului para pemikir Barat modern tersebut.
Ibnu Khaldun mengkaji masalah ekonomi masyarakat dan negara secara empiris dan
menjelaskan fenomena ekonomi sosial secara aktual. Beliau membahas aneka ragam
masalah ekonomi yang luas, termasuk ajaran tentang tata nilai, pembagian kerja,
sistem harga, hukum penawaran dan permintaan, konsumsi dan produksi, uang,
pembentukan modal, pertumbuhan penduduk, makro ekonomi dari pajak dan
pengeluaran publik, daur perdagangan, pertanian, indusrtri dan perdagangan, hak
milik dan kemakmuran, dan sebagainya.
Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari
bagian muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang
merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang
mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum.
Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa
al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-‘Akbar. (Kitab Pelajaran
dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa
Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar
yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar,
Kitab al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban atau disebut
al-Ta’rif, dan oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi , merupakan
bagian terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai
kehidupan Ibnu Khaldun.
2. Abu Hanifah
(Ahmad Ibn Daud Abu Hanifah Addainuri Alhanafi)
Riwayat Hidup Abu Hanifah:
Ø Nama lengkap beliau
adalah Ahmad Ibn Daud Abu Hanifah Addainuri Alhanafi, nama Addainuri
disandarkan pada Dinur, nama sebuah tempat
yang terletak tidak jauh dari kota Hamdan.
dilahirkan di Kufah pada abad ke-3 H dan wafat pada tahun 281 H, Tumbuh dan
berkembang di Iraq kemudian hijrah dan menetap di negara Arab. Beliau
sempat menuntut ilmu dengan beberapa sahabat nabi. Antaranya termasuklah Anas
bin Malik,Abdullah bin Abi Aufa, Sahal bin Abi Saad, Abdullah bin Al-Harith dan
Abdullah bin Anas.
Peranan dan Karya-karya
Abu Hanifah
Beliau juga terkenal sebagai seorang ahli fikir dalam Islam kerana beliau banyak menggunakan akal fikiran dalam memutuskan sesuatu hukum apabila perkara tersebut tidak terdapat
dalam Al-Quran atau hadis nabi.
Karya karyanya yang sampai kepada kita adalah kitab al-Fiqul Akbar, Kitab
Al-Risalah, kitab Al- 'Alim wal Mutallim dan kitab Al-washiyah. Tidak ada buku
fiqih karya abu Hanifah. Meskipun demikian tulisan murid-muridnya telah merekam
secara lengkap semua pandangan fiqih Abu Hanifah hingga menjadi ikutan kaum
muslimin. Muridnya antara lain Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Auza'I, Zafr bin Al -
Ajil bin Qois, Muhammad bin Hasan bin Farqad al-syaibani dan al-Hasan bin Ziyad
al-lu'lu'I . murid-murid inilah yang merekam dan menulis pemikiran Abu Hanifah,
baik bidang akidah maupun bidang hukum. Murid-murid di bidang tasawuf antara
lain Ibrahim bin Adham Fudhail bin 'lyad, Dawud al - Tha'I dan Bisyt al-Hafi.
Adapun murid-murid Abu Hanifah yang
berjasa di Madrasah Kufah dan membukukan fatwa-fatwanya sehingga dikenal,di
dunia Islam, adalah:
Abu Yusuf Ya'kub ibn Ibrahim
al-Anshary (113-182 H).
Muhammad ibn Hasan al-Syaibany
(132-189 H).
Zufar ibn Huzailibn al-Kufy
(110-158 H).
Al-Hasan ibn Ziyad al-hu'lu'iy
(133-204 H).
Dari
keempat murid tersebut yang banyak menyusun buah pikiran Abu Hanifah adalah
Muhammad al-Syaibany yang terkenal dengan al-Kutub al-Sittah
3. Abdurrahman Ibn Auf
Riwayat Hidup Abdurrahman Bin Auf:
Ø Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdi Auf bin Harits bin Zahroh, nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Kilab bin Murrah, yaitu pada Zahroh bin Kilab bin Murrah. Nama beliu pada masa Jahiliyyah adalah Abdun Amrun, Abdul Harits dan
Abdul Ka’bah, kemudian Rasulullah SAW memberinya nama Abdurrahman dan
memberinya julukan Asshodiq Albar (الصادق
البار ).
Ø Dilahirkan selang sepuluh tahun setelah tahun Gajah.
Ø Abdurrahman bin Auf adalah sosok pemuda yang tinggi, yang indah parasnya, yang putih warna kulitnya, yang besar telapak tangannya, yang tebal
jari-jari tangannya, yang mancung hidungnya, yang keriting dan lebat rambutnya
hingga menutupi kedua telinganya, dan yang lebar kedua bahunya.
Ø Abdurrahman bin Auf termasuk golongan dari AssabiqunalAwwalun dan tergolong sepuluh orang yang dijanjikan Rosulullah masuk surga. Beliau masuk Islam bersamaan dengan
saudaranya Al Aswad bin Auf.
Ø Abdurrahmah bin Auf
masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq, yaitu dua hari setelah Abu Bakar
dan sebelum Rasulullah tinggal di rumah Al Arqam. Sebagaimana
kaum muslimin yang lainnya, ia juga mendapatkan tekanan-tekanan dari kaum
Quraisy, yang semakin lama semakin keras. Ketika Allah mengijinkan Rasulullah
untuk hijrah ke Madinah, ia termasuk orang yang turut serta dalam rombongan
tersebut. Di Madinah
beliau dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan sahabat Sa’ad bin Rabi’ Al
Anshari dan dipaparkan
bahwa Abdurrahman Bin Auf melakukan hijrah selama dua kali dalam hidupnya.
Ø Abdurrahman bin Auf
adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet, keuletannya dalam
berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin
berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan
yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai, tidak menjadikan penghalang untuk menjadi dermawan. Disamping itu, beliau adalah juga sosok pejung yang
pemberani, Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak
diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus
berperang Sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh
sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih
lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
Ø Beliau
juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul
Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Menyertainya
apabila mereka berhaji. Beliau
juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yang nilainya sebanyak empat ratus ribu. Puncak dari kebaikannya kepada orang lain,
adalah ketika beliau menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang
kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin
dan Anshar, tanpa mendahulukan kepentingan pribadinya.
Ø Abdurrahman
bin Auf termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari
Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara beliau dan Khalid bin Walid, maka
Rasulullah bersabda,
”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti
salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau
berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai
amalannya.”
Jasa Jasa Abdurrahman bin Auf:
v Abdurrahman bin
memberikan banyak hartanya untuk keperluan perang, sungguh sangat tak terhitung
berapa banyak harta yang beliau keluarkan untuk keperluan perang, karena
terlalu banyaknya harta yang beliau keluarkan untuk keperluan perang,
disebutkan bahwa perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika
dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
v Abdurrahman bin Auf adalah orang yang bertanggung jawab dalam memenuhi segala kebutuhan hidup para Ummahatul Mu’minin setelah wafatnya Rasulullah.
v Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah,
yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi.
v Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang, sehingga diriwayatkan, ia
mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini