ANALISIS STRUKTURAL CERPEN “على أبواب الحياة”
KARYA MUNIR ARAFAH
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, semangat, keyakinan dalam bentuk yang kongkrit yang membangkitkan pesona yang indah dengan alat bahasa (Sumarjo dalam Huda: 2008).
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah karya sastra dapat digunakan untuk menyampaikan apa yang ada didalam diri seseorang dengan tujuan tertentu dan dapat diambil manfaatnya oleh para penikmat sastra.
Karya sastra yang baik ialah karya yang mampu memberikan kesan yang baik bagi pembacanya, dan pembaca ikut terlarut didalam karya tersebut.
Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
Didalam sebuah cerpen pengarang mencoba untuk menuangkan pengalaman pemikiran dan perasaannya untuk bisa di nikmati oleh para pembaca. Cerpen yang merupakan salah satu karya prosa memiliki 2 unsur penting yaitu intrinstik dan ekstrinstik.
Unsur intrinstik ialah unsur yang membangun karya itu sendiri dan unsur ekstrinsik ialah unsur yang berkaitan dengan hal yang berada di luar isi cerita (nurgiantoro dalam pudjiono: 2006).
Untuk mengetahui pesan yang ada dalam sebuah karya prosa, dapat dilakukan sebuah analisis. Huda (2008) mengemukakan bahwa di atara teori sastra yang bisa digunakan untuk menganalisis sepuah karya satra adalah teori struktural, semiotika, stilistika, pragmatik, resepsi dan penerimaan.
Dalam makalah ini penulis akan mencoba untuk menganalisis unsur intrinstik cerita yang berjudul على أبواب الحياة yang terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur, seting, sudut pandang, amanat dan gaya bahasa dengan menggunakan teori struktural.
B. Rumusan masalah
Sesuai dengan latar belakang, maka ada beberapa masalah yang akan dibahas yaitu:
1. Bagaimanakah Sinopsis cerita dari cerpen على أبواب الحياة?
2. Bagaimanakah teori struktural?
3. Bagaimanakah analisis cerpen على أبواب الحياة menggunakan teori struktural?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Sinopsis cerita dari cerpen على أبواب الحياة
2. Mengetahui teori struktural
3. Mengetahui analisis cerpen على أبواب الحياة menggunakan teori struktural
II. PEMBAHASAN
A. Sinopsis cerpen على أبواب الحياة
Cerita yang bejudul على أبواب الحياة ini mengisahkan tentang empat orang laki-laki yang datang dari segala penjuruh dan mereka bertemu di depan pintu masuk sebuah kota. Keempat orang ini adalah Hamdan, Buha’, ‘Auf dan Qusho.
Hamdan adalah orang yang kuat, tinggi, tidak berpenampilan menarik, dan terlihat di wajahnya kerutan-kerutan yang jelas.
Laki-laki yang kedua adalah Buha’, ia sangat berbeda sekali dengan Hamdan. Buha’ adalah orang yang memilikimata yang indah, giginya yang seperti mutiara, dan ia bagaikan oase ditengah padang pasir dan ini menggambarkan ia adalah laki-laki yang tampan yang memperhatikan penampilan.
Laki-laki selanjutnya adalah ‘Auf. Ia adalah orang yang cerdas, sedikit bicara, orang yang pendiam dan ia tidak akan memberi komentar terhadap apapun kecuali ia diminta untuk hal itu.
Laki-laki yang terakhir adalah Qusho. Kalu dilihat ia adalah orang yang tidak memiliki kesungguhan dalam hidup. Ia tidak memikirkan hal-hal yang sudah lampau maupun yang akan datang dan ia pasrah dengan keadaan yang ia sedang hadapi.
Berkumpulnya empat orang ini di depan pintu masuk adalah untuk masuk ke dalamnya kemudian mencari pekerjaan. Ketika sedang menunggu untuk masuk maka terjadilah perbincangan diantara mereka.
Salah seorang diantara mereka bertanya, apakah yang paling mempengaruhi kehidupan manusia? Maka keempat orang ini memberika jawaban dengan pendapat mereka masing-masing. Hamdan menjawab “ kesungguhan, ketekunan dan usaha yang giat adalah hal yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia”.
Kemudian Buha’ menjawab “Yang paling mempengaruhi kehidupan manusia adalah penampilan yang bagus, indah dan keadaan yang baik”. Selanjutnya ‘Auf diminta untuk memberikan pendapat dan iapun berkata “yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia adalah akal yang mereka miliki”. Kemudian laki-laki terakhir yaitu Qusho pun berkata “ saya sangat senang sekali mengatakan bahwa yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia adalah taqdir mereka masing-masing.
Keesokan harinya mereka membuktikan apa yang mereka ucapkan. Setiap harinya hanya ada satu orang yang diperbolehkan untuk masuk kedalam kota, itulah ketentuan yang telah ditetapkan oleh penjaga pintu masuk. Kemudian orang yang pertama masuk ke dalam kota itu adalah Hamdan. Lalu Hamdan masuk kedalam kota dan ia melalui harinya di dalam kota tersebut dengan bermodalkan kegigihan, ketekunan dan kerja keras sehingga ia dapat menghasilkan uang satu dinar . Setelah menjelang sore hari ia kembali menemui teman-temannya yang ada di depan pintu masuk dengan membawakan mereka makanan yang lezat. Kemudian salah seorang dari mereka berdiri dan menulis dipintu masuk “Kegigihan dan kerja keras dalam satu hari sebanding dengan satu dinar”
Pada hari kedua mereka menyuruh Buha’ untuk masuk kedalam kota untuk membuktikan apa yang telah ia katakan. Kemudian Buha’ pun masuk kedalam kota dan melalui harinya didalam kota tersebut dengan bermodalkan ketampanan dan keindahan penampilan yang ia miliki. Dan ia pun dapat menghasilkan uang seratus dinar. Menjelang sore hari ia pun kembali dengan membawa makanan dan minuman yang lezat. Kemudian salah seorang berdiri dan menulis di pintu masuk “keindahan dalam satu hari sebanding dengan seratus dinar”
Pada hari ketiga ‘Auf masuk kedalam kota dan iapun membuktikan apa yang telah ia katakan. Dengan bermodalkan kecerdasannya ia bisa mendapatkan seribu dinar. Menjelang sore hari ia kembali menemui temannya dan membawakan makanan dan minuman yang sangat lezat kemudian ia menceritakan pengalaman yang ia alami. Lalu salah seorang berdiri dan menulis dipintu masuk “kecerdasan dalam satu hari sebanding dengan seribu dinar”
Pada hari keempat Qusho masuk kedalam kota dan ia yakin bahwa taqdirlah yang paling mempengaruhi kehidupan manusia. Setelah ia lalui harinya dengan berbagai keadaan dan ternyata karena suatu hal iapun di angkat menjadi raja di kota tersebut. Ia telah disibukan dengan urusan kerajaan sehingga ia lupa akan teman-temannya yang ada dipintu masuk kota. Ketika ia mengelilingi kota untuk melihat keadaan rakyatnya, ia melihat teman-temannya yang ada di depan pintu masuk dan barulah ia mendekati mereka. Kemudian Qusho menceritakan apa yang ia alami sehingga bisa menjadi raja. Semua temannya ia bawa ke dalam istana dan menjamunya dengan makanan yang enak lagi lezat. Lalu Qusho menunjuk teman-temannya untuk bekerja di dalam kerajaan sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Kemudian Salah seorang pergi menulis di depan pintu masuk “tidaklah orang yang bersunggu-sunggu, orang yang berpenampilan indah, dan orang yang cerdas itu bermanfaat bagi dirinya sendiri melainkan hanya dengan kehendak dan taqdir Allah”
B. Teori Struktural
Karya sastra mempunyai sistem yang terdiri atas unsur yang saling berhubungan. Untuk mengetahui kaitan antar unsur dalam sebuah karya sastra itu sangat tepat jika penelaahan teks sastra diawali dengan pendekatan struktural.
Pendekatan struktur dalam menganalisis karya sastra, sudah sangat sering digunakan. Hal ini menandakan bahwa pendekatan ini mudah dipahami dan dilaksanakan dalam pengkajian sastra. Pendekatan struktural lahir karena adanya beberapa alasan atau sebab. Salah satu dari sekian banyak alasan tersebut adalah adanya pendekatan tradisional yang masih mementingkan peniru alam sebagai alasan utama terciptanya sebuah karya sastra.
Analisis struktural yang digunakan dalam analisis karya sastra adalah analisis struktural yang berfokus pada teks itu sendiri (huda:2008). Jadi dalam menganalisis suatu karya prosa yang berfokus pada teksnya ada beberapa yang unsur yang harus diketahui yaitu tema, tokoh dan penokohan, alur, seting, amanat, tata bahasa dan sudut pandang.
Analisis struktur dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengkaji, mendiskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan (Nurgiantoro, 2005).
Teeuw (1997) berpendapat bahwa analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memperkaya secara cermat. Keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh.
Ada pandangan yang mengetakan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berbeda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut. Serta untuk memaparkan dan menyampaikan suatu karya sastra dengan jelas dan secara menyeluruh harus lah melalui unsur yakni melalui tema, alur, tokoh dan latarnya dan juga dari aspek karya sastra itu sendiri.
C. Analisis Cerpen على أبواب الحياة Menggunakan Teori Struktural
1. Tema
Menurut Eddi (1991) tema merupakan yang menjadi dasar sebuah karangan. Stantin dan Kenni (dalam Nurgiyantoro, 2005;67) tema merupakan makna yang terkandung di dalam sebuah cerita. Dalam Kamus KBBI dijelaskan tema merupakan pokok pikiran; dasar cerita (yg dipercakapkan, dipakai sbg dasar mengarang, menggubah sajak, dsb) (KBBI elektronik: v1.1). Dari pengertian diatas bisa diamil kesimpulan bahwa tema dalam cerpen ini adalah kehidupan. Tema ini tercermin dari judulnya yaitu على أبواب الحياة (di depan pintu kehidupan). Tema ini juga tergambar di dalam cerpen yaitu bagaimana mereka berusaha untuk bisa bertahan hidup.
2. Tokoh dan Penokohan
Menurut Abram dalam Huda (2008) tokoh merupakan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif. Adapun penokohan adalah sikap dan sifat pribadi tokoh. Tokoh dapat dibagi menjadi dua yaitu protagonis dan antagonis,
Pengarang mendeskripsikan tokoh-tokoh utama yang ada dalam cerpen ini dengan sangat detail. Pengarang hanya mendeskripsikan tokoh yang ada dalam cerpen ini sebagai tokoh protagonois. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Hamdan, Buha’, ‘Auf, dan Qusho. Dan tokoh tambahan dalam cerpen ini adalah Penjaga pintu gerbang, seorang laki-laki, Putri dan dayangnya, para pedagang, Polisi, dan para perdana mentri. Secara lebih detail perhatikan tokoh dan penokohan dibawah ini.
1. Hamdan (tokoh utama)
Tokoh Hamdan didiskripsikan dengan sangat jelas oleh pengarang. Ia adalah laki-laki yang tinggi, kuat, kulitnya berwarna coklat, di dahinya terlihat kerutan kerutan yang jelas. Ciri-ciri yang disampaikan pengarang mengindikasikan bahwa hamdan adalah orang yang suka bekerja keras. Dan hal ini digambarkan pada episode I pada baris ke 6 dan seterusnya:
فحين تنظر إلى "حمدان" تجد أمامك رجلا أسمر اللون طويل القامة مفتول العضلات قوى البنية غائر العينين. قد حُفرت على جبينه خطوطٌ واضحة .
تَرَكَ لحيته لم يحلقها تماما ولم يطلقها تمامًا مما يشعرك بأن هذا الرجل الذى أمامك لا يستهويه أن يقف طويلا أمام المرآة.
2. Buha’ (tokoh utama)
Tokoh buha didiskripsikan oleh pengarang sebagai tokoh yang selalu memperhatikan penampilan. Buha adalah orang yang tampan, mempunyai mata yang indah, gigi yang seperti mutiara. Dan pengarang melukiskan bahwa buha bagaikan oase dipadang pasir dikala ia duduk bersama temannya. Hal ini dilukiskan dalam teks berikut:
".........." بهاء " فقد كان شابا وسيمًا قد رسمت الأقدارُ هيئتَه كأنما ترسم لوحةَ فنيةَ رائعة. فلو نظرت إلى عينيه لاحترت فيهما أهى عيون خضراء أم زرقاء؟ مع جاذبية دون كلام .. قد وضعت كل عين فوق وجنة كوجنة أجمل النساء يتوسط الوجنتين أنف دقيقة وتحته فم قد حوى أسنانًا كاللؤلؤ..
وكان الفرق واضحًا بين الرجلين ...
فكان الأربعة إذا جلسوا ، فإنهم ينظرون إلى "بهاء" كواحة خضراء قد وُضعت فى صحراءَ قاحلة ، من أين أتوها فهى واحة جميلة ". (episod I baris ke 13 dst)
3. ‘Auf (tokoh utama)
‘Auf adalah orang yang cerdas, pendiam dan ia tidak akan bicara kecuali diminta untuk berbicara. Hal ini dijelaskan oleh pengarang pada episod I baris ke 22 yaitu:
أما " عوف " فكان رجلا عاقلا ، كلامه قليل .. كثير الصمت ولا يدخل فى أى موضوع إلا إذا طُلب منه فإذا حدثته وجدته رجلا واعيا لكل ما يدور من حوله، وإن حاول أن يبدى أنه لا يعلم شيئًا.
4. Qusho (tukoh utama)
Adapun Qusho ia adalah orang orang yang pasrah terhadap kehidupan yang ia jalani dan ini disebutkan dalam teks berikut:
أما " قُصَى " فحين تراه تشعرُ أنك أمام إنسان لم يحمل –يومًا- همًا للحياة .. فلو هُدمت المدينة بأكملها لهرب الجميع إلا هو، فسيفكر فى لحظتها عن موطن الاستفادة فى هذه اللحظة ..
وإنه لا يشغله الماضى كثيرًا ولا يعنيه المستقبل فى شئ .. فالمستقبل عنده فى علم الغيب، أما الماضى فقد مضى بحلوه وبمره. (Episod I baris ke 25 dst)
".....أحب أن أقول إن الأقدار هى التى تؤثر فى حياة الإنسان أولا وآخرًا"(Episod II Baris ke 32)
5. Penjaga pintu gerbang (tokoh tambahan)
Dalam cerpen ini pengarang menggambarkan penjaga pintu gerbang adalah orang sangat taat pada aturan yang telah ditetapkan oleh pembesar kota, hal ini diperkuat dengan adanya stetmen dari penjaga saat berdialog dengan hamdan pada episode III baris ke 2-10 yaitu:
"........فإذا بالحارس ينادى : لن يُسمح بالدخول الى المدينة إلا لواحدٍ فقط على أن يرجع فى آخر النهار ..
صاح الجميع : ولم ؟!
قال الحارس : هذه هى التعليمات الواردة إلينا .
ذهب "عوف" الى الحارس - وكأنه صديق قديم - فتجاذب معه أطراف الحديث . وقال له من بين ما قال : ما الداعى لذلك ؟
قال الحارس له وهو يتلفت كأنه يقول له سرًا خطيرًا : إن بداخل المدينة اضطرابات كثيرة بسبب الحالة الصحية لملك المدينة .
قال "عوف" للحارس : ألا يمكن أن يدخل اثنين ؟
قال الحارس : ليس الأمر بيدى ، فاختاروا واحدًا منكم يدخل اليوم ".
6. Seorang laki-laki
Tokoh laki-laki dalam cerpen ini dilikiskan mempunyai karakter yang sama dengan Hamdan (tokoh utama). Ini tercermin di dalam teks yaitu:
"....فدخل "حمدان" الى المدينة وأخذ يبحث فيها ماذا يصنع فى يومه حتى رأى رجلا يشبهه فذهب اليه ..
قال "حمدان" للرجل : ما هو العمل الذى إذا صنعه الرجل فى هذه المدينة يحصل منه فى آخر يومه على طعامٍ يكفى لأربعة أفراد .
قال الرجل : يمكن أن تذهب الى الشعاب وأقاصى المدينة فتجمع حطبًا ثم تأتى فى آخر اليوم فتبيعه فى السوق ." (episode III baris ke15-19)
7. Para pedagang
Para pedagang digambar sebagai orang-orang yang pandai dalam strategi jual beli dan sebagai seorang pedagang mereka selalu membicarakan tentang perdagangan. ini tercermin dalam episode V baris ke 5-9 yaitu:
"......وقد وجد الرجل مكانا قد أُعد للجلوس فجلس، وطلب مشروبا يشربه، وجلس يسمع تعليقات التجار وكأنه لا يعنيه شئٌ من هذا الكلام .
وعلم من خلال كلامهم أنهم ينتظرون مقدم سفينة ضخمة محملة بأنواع مختلفة من الأقمشة
ورغم حاجة التجار الشديدة الى هذه البضائع إلا أنهم اتفقوا بينهم أن يبخسوا هذه البضائع حتى يشتروها بأقل الأثمان ."
8. Putri dan dayang
Sosok sang putri dalam cerpen ini di gambarkan bahwa ia senang terhadap Buha’ ini tercermin dalam episode IV baris ke 16 yaitu:
".......لو دخلت المدينة فى أى يوم فإنى على شوق متى الأيام تجمعنا"
Adapaun dayang merupakan seorang yang taat atas perintah sang putri, ini tercermin saat sang putri menyuruh untuk memanggil Buha kemudian ia lansung melaksanakannya.
9. Polisi
Tokoh polisi digambarkan sebagai orang yang tegas dalam melaksanakan tugas ini tercermin dalam episode VI baris ke 7 dst yaitu:
"........وبينا هو كذلك إذ أقبل عليه شرطي مدجج بالسلاح ، فنهره .
وقال له آمرًا : قم .
قام "قُصَى" مع الشرطى وهو ولا يدرى ما حدث .
فعلم من خلال كلام الشرطى أن مَلِكَ هذه المدينة قد ساءت صحته أكثر ومات . وكانت الجنازة الكبيرة جنازته .
فأخذ "قُصَى" يقسم أنه لا يدرى .
وأنه لم يدخل المدينة إلا فى هذا اليوم ، فلم يسمع له الشرطى بل قذف به فى غياهب السجن
ثم قال الشرطى : سوف تحاكم على فعلك الشائن ..وستعلم يا صعلوك كيف تقدر الملوك" .
10. Para perdana mentri
Tokoh perdana mentri di lukiskan sebagai tokoh yang menjalankan tugas dengan baik hal ini tercermin ketik Raja kota tersebut meninggal mereka lansung membuat tim penentuan raja yang baru, dan juga bagaimana mereka memberikan keputusan kepada Buha’ dengan keputusan yang adil.
3. Seting
Sudjiman dalam Wirwan (2009) mengatakan setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Seting dalam karya prosa dibagi tiga yaitu tempat, waktu dan social (nurgiantoro dalam Wirwan, 2009).
Sesuai dengan pengertian yang telah dijabarkan, seting dalam cerpen ini ada tiga yaitu:
a. Setting tempat : Dalam cerpen ini seting tempatnya adalah di depan pintu masuk kota dan di dalam kota. Ini tercermin dalam teks berikut,
"..........وَجَدَ هؤلاء الأربعة أنفسهم أمام باب المدينة، وقد أتى كل واحد منهم من اتجاهات مختلفة ومن مشارب متفرقة." (Episod I baris ke 2)
اجتمع هؤلاء الأربعة ليدخلوا المدينة .... (Episode I baris ke 31)
b. Seting waktu: setiap pagi hari sampai malam hari, hal ini tercermin ketika salah seorang mereka pergi masuk kota pagi hari kemudian ia bekerja dan pulang pada malam hari dengan membawa makanan.
c. Setting sosial: seting sosial yang digambarkan oleh pengarang adalah bagaimana seorang yang berjuang untuk mempertahankan hidup dengan kepercayaan diri mereka masing-masing, dan dengan menghadapi peraturan-peraturan yang ada di sekitar mereka. Dan digambarkan juga tatkala seorang raja meninggal maka semua orang harus ikut mengiringinya untuk dimakamkan tidak boleh ada yang mengerjakan hal yang lain.
4. Alur
Alur sering juga disebut plot. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita (Sundari dalam Zainuddin Fananie, 2002).
Alur dalam cerpen ini memakai alur maju karena kejadian ini dimulai sejak mereka bertemu di depan pintu kota sampai mereka hidup bahagia di dalam kota tersebut (lihat lampiran makalah).
Dalam alur ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu perkenalan, konflik , klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
Yang pertama adalah pengenalan tokoh, ini tercermin pada episode I, (lihat lampiran makalah)
Yang kedua adalah konflik, konflik dalam cerpen ini digambarkan mulai dari Episode II ketika mereka berdiskusi tentang hal yang paling berpengaru dalam kehidupan manusia.
Yang ketiga adalah klimaks: klimaks dalam cerpen ini adalah ketika setiap orang dari mereka membuktikan apa yang mereka katakan. Dan ini tercermin dalam episode III-VI.
Yang keempat adalah penyelesaian. Penyelesaian dari cerita ini adalah ketika Qusho yang saat itu telah menjadi raja memberikan kedudukan pada teman-temannya sesuai dengan kemampuan mereka. Ini tercerpin pada episode terakhir.
5. Sudut Pandang
Menurut Didik Wijaya : Sudut pandang atau point of view di dalam cerita fiksi pada prinsipnya adalah siapa yang menceritakan cerita tersebut. Sudut pandang dapat dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang orang pertama dan ketiga. Dalam cerpen ini sudut pandang yang digunakan oleh pengarang adalah sudut pandang orang ketiga. Karena dalam cerpen ini pengarang mencoba untuk mengisahkan pejalanan hidup empat orang yang datang dari segala penjuruh untuk berjuang mempertahankan hidup mereka.
6. Amanat
Menurut Sumi Winarsih & Sri Wahyuni dalam Zaini (2010) Amanat adalah pesan yang akan disampaikan pengarang dalam cerita (novel). Amanat merupakan ajaran moral atau nasehat yang hendak disampaikan pengarang atau pembaca. Pesan cerita umumnya tersaji secara implisit.
Dalam cerpen ini pengarang mencoba untuk menuangkan amanat yang berharga yaitu segala sesuatu yang ada dibuka bumi ini merupakan takdir Allah. Kekuatan kecerdasan, keindahan tidak akan bermanfaat kecuali atas kehendak Allah. Hal ini tercermin pada episode terakhir yaitu:
"ما من جد مجتهد ، ولا جمال جميل ، ولا عقل عاقل ..ينفع إلا بقضاء الله وقدره."
7. Gaya Bahasa
Huda (2008) mengungkapkan beberapa pembagian gaya bahasa menurut beberapa pendapat yaitu :
“Menurut Abrams (1981), unsur style terdiri dari fonologi, sintaksis, leksikal, retorika. Di pihak lain leech and short (1981 dalam nurgiyantoro, 1995) mengemukakan unsur style terdiri dari leksikal (diksi), gramatikal (struktur kalimat), pemajasan (gaya bahasa kiasan), penyiasatan struktur (repetisi, paralelisme, anaphora, pertanyaan retoris) dan pencitraan (imagery)”
Gaya bahasa yang derdapat dalam cerpen ini adalah perumpamaan, metafora dan penggunaan diksi yang dapat memperindah isi cerpen.
"........فحين تنظر إلى "حمدان" تجد أمامك رجلا أسمر اللون طويل القامة مفتول العضلات قوى البنية غائر العينين. قد حُفرت على جبينه خطوطٌ واضحة" . (Episode I baris ke 6)
".............." بهاء " فقد كان شابا وسيمًا قد رسمت الأقدارُ هيئتَه كأنما ترسم لوحةَ فنيةَ رائعة. فلو نظرت إلى عينيه لاحترت فيهما أهى عيون خضراء أم زرقاء؟ مع جاذبية دون كلام .. قد وضعت كل عين فوق وجنة كوجنة أجمل النساء يتوسط الوجنتين أنف دقيقة وتحته فم قد حوى أسنانًا كاللؤلؤ".. (Episode I baris ke 13)
".............فكان الأربعة إذا جلسوا ، فإنهم ينظرون إلى "بهاء" كواحة خضراء قد وُضعت فى صحراءَ قاحلة ، من أين أتوها فهى واحة جميلة" . (Episode I baris ke 18)
".......أرسل الصباح أشعته عليهم فاستيقظوا من سبات عميق" .. (Episode III baris ke 1)
"........يتنقل بينها كما تنتقل الفراشات بين الأزهار والورود" . (Episode IV baris ke 4)
"جد واجتهاد المجتهد فى يوم واحد يكافئ دينار واحد" . (Episode III baris terakhir)
"جمال الجميل فى يوم واحد يكافئ مائة دينار" . (Episode IV baris terakhir)
"عقل العاقل فى يوم واحد يكافئ ألف دينار" . . (Episode V baris terakhir)
"ما من جد مجتهد ، ولا جمال جميل ، ولا عقل عاقل ..ينفع إلا بقضاء الله وقدره". . (Episode VII baris ke 22)
III. PENUTUP
A. Simpulan
Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, semangat, keyakinan dalam bentuk yang kongkrit yang membangkitkan pesona yang indah dengan alat bahasa (Sumarjo dalam Huda: 2008).
Analisis struktur dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengkaji, mendiskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan (Nurgiantoro, 2005).
Teeuw (1997) berpendapat bahwa analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memperkaya secara cermat. Keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh.
Hasil analisis cerpen على أبواب الحياة karya Munir ‘Arafah adalah
1. Tema: Kehidupan
2. Tokoh: Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Hamdan, Buha’, ‘Auf, dan Qusho. Dan tokoh tambahan dalam cerpen ini adalah Penjaga pintu gerbang, seorang laki-laki, Putri dan dayangnya, para pedagang, Polisi, dan para perdana mentri.
3. Penokohan:
Hamdan : Orang kuat berusaha dan bekerja
Buha’ : Orang yang sangat memperhatikan keindahan
‘Auf : Orang yang Pandai
Qusho : Orang yang selalu pasrah terhadap taqdir Tuhan
Penjaga pintu gerbang: Sosok yang taat akan aturan
Seorang laki-laki: Orang yang giat bekerja dan berusaha
Putri dan dayang: Sosok yang senang akan keindahan
Para pedagang: Sosok orang-orang selalu sibuk terhadap perniagaan
Polisi: Seorang yang tegas dalam melakukan tugas yang diembannya
Para Mentri: Orang-orang yang sangat memperhatikan keadaan kerajaan maupun rakyatnya.
4. Seting:
Setting tempat: di depan pintu masuk kota dan di dalam kota.
Seting waktu: setiap pagi hari sampai malam hari.
Setting sosial: seting sosial yang digambarkan oleh pengarang adalah bagaimana seorang yang berjuang untuk mempertahankan hidup dengan kepercayaan diri mereka masing-masing, dan dengan menghadapi peraturan-peraturan yang ada di sekitar mereka. Dan digambarkan juga tatkala seorang raja meninggal maka semua orang harus ikut mengiringinya untuk dimakamkan tidak boleh ada yang mengerjakan hal yang lain.
5. Alur: memakai alur maju
6. Sudut pandang: pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga
7. Amanat: Dalam cerpen ini, terdapat amanat bahwa “segala sesuatu yang ada dibuka bumi ini merupakan takdir Allah. Kekuatan kecerdasan, keindahan tidak akan bermanfaat kecuali atas kehendak Allah”.
8. Unsur bahasa: Gaya bahasa yang derdapat dalam cerpen ini adalah perumpamaan, metafora dan penggunaan beberapa diksi yang dapat memperindah isi cerpen.
B. Saran
Analisis Struktural sebagai analisis yang mendasar perlu untuk terus di praktekan dan diterapkan guna mendapatkan hasil analisis yang maksimal.
ada yang masih kurang dalam analisis ini, kekurangan itu adalah blum ada hubungan antara unsur-unsur intinsik cerpen
DAFTAR RUJUKAN
Arafah, Munir. Tanpa tahun, على أبواب الحياة , http://www.saaid.net/book/index.php (Online)
Huda, I.S. dkk. 2008. Telaah prosa. Malang: universitas negeri malang.
KBBI elektronik V1.1
Marhalim, Zaini. 2010. Amanat dan moral dalam sastra. http://xpresiriau.com/bengkel-sastra/amanat-dan-moral-dalam-sastra/(Online).
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pujioni, Muhammad. 2006. analisa nilai-nilai religious dalam cerita pendek karya miyazawa kenzi (Sebuah skripsi), Medan.
Teeuw, A. 1997. Citra manusia dalam karya sastra pramoedya ananta toer. Jakarta: pustaka jaya
Wijaya, Didik. 2007.memilih sudut pandang. http://www.escaeva.com/tips-menulis/tips-fiksi/memilih-sudut-pandang.html(Online).
Wirwan, Teguh. 2009. Analisis Strukturalisme Genetik Roman Namaku Teweraut Karya Ani Sekarningsih, www.go blog.com.
Zainuddin Fananie. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadyah University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini