KISAH PEMINANG BIDADARI
Wahai saudara-saudaraku seiman, saat in agama Alloh Jalla wa ’Ala sedang dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Hari ini musuh-musuh Islam telah menyatakan kebencian dan dendam yang sudah mengakar pada hati mereka semenjak berabad-abad yang lalu. Yang lebih parah lagi, tidak hanya para musuh Islam yang telah merusak harga diri agama ini, tetapi dari kaum muslimin sendiripun banyak yang termakan kebohongan - yang kata akh Abdul ’Aziz - bangsa Drakula bin monster itu J. But don’t worry, gak usah kaget, coz Alloh Jalla wa ’Ala udah mengatakan pada kita kok sejak 14 abad yang lalu.
” Mereka (musuh-musuh Islam) tidak akan pernah berhenti memerangi kalian sampai mereka berhasil memurtadkan kalian dari Dien (Agama) kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 217)
Hanya saja, yang ana sayangkan saat ini adalah sikap kaum muslimin yang cuma adem ayem alias tenang-tenang aja ngedenger propaganda bangsa Drakula bin Monster itu, malahan ada yang ikut-ikutan mereka - kagak tau lagi deh bakalan diapain tuh orang di akherat -. Nah, semoga dengan Kisah karya seorang sastrawan tanah Rencong, Aceh ini, bisa membuat semangat kepada pemuda pemuda Islam di seluruh Fakultas Sastra dalam melawan propaganda yang dilontarkan oleh bangsa Drakula bin Monster itu dan dalam menolong agama Alloh Jalla wa ’Ala yang hanif ini.
”Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (Agama) Alloh, niscaya Dian akan menolongmudan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 70)
Emang bukan kisah nyata sih, tapi, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut. Wallahu a’lam.
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At-Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut:
" Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh; sehingga mereka membunuh atau terbunuh..."
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata: ”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” ”Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan: ”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan surga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak: ”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah.”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. ”Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah? ”Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang…”
Ketika aku dipersilahkan masuk, kulihat bidadari yang sangat cantik duduk diatas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu itu aku mendekat dan dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda itu melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid, aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama.”
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).
4 Rojab 1429 Hijiriyah,
Iman bin Muhammad Al-Harby
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini